<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>basith el qudsy's Blog</title>
	<atom:link href="http://basithelqudsy.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://basithelqudsy.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 Mar 2011 12:15:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='basithelqudsy.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>basith el qudsy's Blog</title>
		<link>http://basithelqudsy.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://basithelqudsy.wordpress.com/osd.xml" title="basith el qudsy&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://basithelqudsy.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>The IPUNG 2 Returns</title>
		<link>http://basithelqudsy.wordpress.com/2008/11/07/the-return-of-ipung-2/</link>
		<comments>http://basithelqudsy.wordpress.com/2008/11/07/the-return-of-ipung-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Nov 2008 02:37:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>basith el qudsy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[ipung 2]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Prie GS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://basithelqudsy.wordpress.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[The IPUNG 2 Returns “Atas nama cinta dan kehilangan!” pekik Gredo. Kini kerumunan itu menunggu. Paulin telah mengerti kedatangan pasukan perusuh itu. Tika, si karib yang tak henti-hentinya menangis, telah membocorkan semua rencana itu kepadanya. Maka jika Paulin belum berani keluar kamar, bukan karena ia tak kuat menahan gelombang empati itu. Melainkan karena ia tahu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=basithelqudsy.wordpress.com&amp;blog=5313869&amp;post=42&amp;subd=basithelqudsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">The IPUNG 2 Returns</p>
<p><a href="http://imageshack.us"><img class="aligncenter" src="http://img255.imageshack.us/img255/3587/ipung2yf4.jpg" border="0" alt="" width="183" height="277" /></a><br />
<a href="http://g.imageshack.us/img255/ipung2yf4.jpg/1/"><br />
</a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-family:Georgia;">“Atas nama cinta dan kehilangan!” pekik Gredo.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-family:Georgia;">Kini kerumunan itu menunggu. Paulin telah mengerti kedatangan pasukan perusuh itu. Tika, si karib yang tak henti-hentinya menangis, telah membocorkan semua rencana itu kepadanya. Maka jika Paulin belum berani keluar kamar, bukan karena ia tak kuat menahan gelombang empati itu. Melainkan karena ia tahu rencana yang mengerikan, yang ia tahu, siapa sutradara di balik itu semua.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-family:Georgia;">“Dendam Gredo, masih menyala,” kata Paulin ngeri. Kengerian yang jelas, karena rencana Gredo itu cerdik sekali, lembut sekali, mulia sekali. Untuk menarik niatnya mundur dari sekolah jelas tidak mungkin. Tetapi untuk menolak pesta, juga tidak mungkin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-family:Georgia;">Dan itulah jenis pesta yang berkali-kali telah digelar di Budi Luhur, dengan Ipung sebagai target korbannya. Itulah pembantaian terencana dengan Ipung yang akan dipanggang hidup-hidup dalam pengadilan </span><span style="font-family:Georgia;">massa</span><span style="font-family:Georgia;">. Selama ini, secara menakjubkan Ipung lolos dan malah menjadi tambahan bagi popularitasnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-family:Georgia;">“Tapi tidak untuk kali ini,” kata Anak Mami lirih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-family:Georgia;">Kepergianku, hanya akan dimanfaatkan untuk membunuhnya!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-family:Georgia;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-family:Georgia;">* * *</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-family:Georgia;">Ya. Itulah penggalan cerita yang tertera di sampul belakang Novel Ipung 2. Mendengar kata Gredo, terbayangkan bahwa sosoknya jahat, penuh tipu muslihat, tak mau dikalahkan. Seolah-olah musuh bebuyutan dengan kesulitan tingkat tinggi dalam mengatasinya. Berbeda jauh dengan penampilan luarnya. Begitu santun, lembut, pandai mencari empatik, ramah pada lawan bicaranya. Namun semua itu sebatas pencitraan diri. Dibaliknya adalah kedengkian luar biasa terhadap teman sekaligus rivalnya. Ia benar-benar licin. Bahkan hingga ke titik tanpa bentuk sama sekali. Karena dengan itu, ia menjadi dalang bagi nasib saingannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-family:Georgia;">Gambaran semacam itulah yang dirasakan Paulin. Ia tahu betul rencana agresi balas dendam kepada sang kekasih, Ipung. Dendam yang harus dibayar mahal, tidak cukup dengan tangis seorang. Bahkan perlu kepedihan ribuan orang untuk menyempurnakan penderitanya. Butuh even tertentu dan biaya tidak sedikit pula. Bukan kematian ragawi yang ia inginkan, melainkan kematian mental dan penyesalan seumur hidup yang ia cari. Rupa-rupanya inilah kesempatan Gredo mengatasi masalahnya selama ini dengan tangan dingin. Dalang berdarah dingin! Semua itu tidak sulit. Karena ia mempunyai “tombol-tombol” yang siap bergerak atas komandonya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-family:Georgia;">Tangis, ketakutan, dan kegetiran itu masih merundung di hati Paulin. Namun ia tak sendiri. Tika sang sahabat, juga merasakan penderitannya. Seakan kejadian itu akan nyata di depan mata. Penderitaan begitu hebatnya yang akan dialami teman karibnya. Siksaan sebelum siksaan sesungguhnya! Tak khayal bila saking takutnya, air mata sering meleler sebelum waktunya. Kalau diizinkan, pingsan pun solusi tepat ketidakkuatannya. Akan tetapi bagaimana dengan Ipung sendiri, apakah sang korban merasakan kekhawatiran-kekhawatiran sebagaimana yang dirasakan kekasihnya dan teman-teman di sekolahnya? Haruskah Ipung memanggil bantuan dari “</span><span style="font-family:Georgia;">Douglas</span><span style="font-family:Georgia;">”, sang sahabat bertubuh kekar, berkulit hitam, jago berlaga di arena jalanan untuk melawannya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span style="font-family:Georgia;">Semua kekhawatiran, ketakutan, dan kecemasan itu akan ditata apik oleh sang empunya, penulis sekaligus pencetus kelahiran Ipung. Siapa lagi kalau bukan mas Prie GS, budayawan, motivator sekaligus ‘Kiai’. Keudikan, keunikan, keharuan, dan kekonyolan cerita beliau akan tertumpah dalam novelnya IPUNG 2. Tentunya sarat dengan lika-liku pelajaran hidup, penuh hikmah, penuh kearifan, penuh kebajikan. Segera peluncuran perdana Novel IPUNG 2 di Jakarta tanggal </span><span style="font-family:Georgia;">12 November 2008</span><span style="font-family:Georgia;">. Selamat dan sukses buat mas Prie!</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/basithelqudsy.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/basithelqudsy.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/basithelqudsy.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/basithelqudsy.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/basithelqudsy.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/basithelqudsy.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/basithelqudsy.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/basithelqudsy.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/basithelqudsy.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/basithelqudsy.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/basithelqudsy.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/basithelqudsy.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/basithelqudsy.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/basithelqudsy.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=basithelqudsy.wordpress.com&amp;blog=5313869&amp;post=42&amp;subd=basithelqudsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basithelqudsy.wordpress.com/2008/11/07/the-return-of-ipung-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da59306cab202126fffe651a4a967ca8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">basithelqudsy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://img255.imageshack.us/img255/3587/ipung2yf4.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Logika Desain versus Logika Masak</title>
		<link>http://basithelqudsy.wordpress.com/2008/10/31/logika-desain-versus-logika-masak/</link>
		<comments>http://basithelqudsy.wordpress.com/2008/10/31/logika-desain-versus-logika-masak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Oct 2008 13:41:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>basith el qudsy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://basithelqudsy.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Logika Desain versus Logika Masak T ahun 2007 lalu, adalah tahun dimana aku memiliki intensitas jam terbang cukup tinggi di Jakarta. Boleh dikatakan hampir setiap bulan aku pergi ke Jakarta. Di Jakarta pun aku tidak tanggung-tanggung. Antara 1-2 bulan di sana. Pulang lagi di Semarang selama satu bulan. Balik lagi ke Jakarta 1 bulan. Begitu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=basithelqudsy.wordpress.com&amp;blog=5313869&amp;post=31&amp;subd=basithelqudsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-align:center;text-indent:0;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-align:center;text-indent:0;" align="center"><strong><span style="font-size:18pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Logika Desain versus Logika Masak</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"><br />
</span></p>
<div>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td style="padding:0;" align="left" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:0;line-height:37.45pt;page-break-after:avoid;vertical-align:baseline;"><span style="font-size:48.5pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">T</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:0;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">ahun 2007 lalu, adalah tahun dimana aku memiliki intensitas jam terbang cukup tinggi di Jakarta. Boleh dikatakan hampir setiap bulan aku pergi ke Jakarta. Di Jakarta pun aku tidak tanggung-tanggung. Antara 1-2 bulan di sana. Pulang lagi di Semarang selama satu bulan. Balik lagi ke Jakarta 1 bulan. Begitu seterusnya. Pada waktu itu memang Allah memberikan rezeki untuk mengerjakan belasan desain majalah dan buku. Meskipun rentan waktu cukup lama untuk ukuran sekali desain, perbaikan dan revisilah yang membuat aku harus menetap sementara di sana. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Di Jakarta aku tidak sendiri. Ada sahabatku yang memperkenankan aku untuk tinggal di tempatnya selama aku ada keperluan di Jakarta. Syukurlah. Tidak cuma itu, teman-temannya pun ‘<em>welcome</em>’ terhadapku. Maka tak butuh waktu lama aku mengenalnya. Cukup hitungan hari, hampir sebagian besar komunitasnya aku kenali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Selama di Jakarta, temanku memberikan apresiasinya yang terbaik, perhatian yang terbaik, dan semua serba yang terbaik. Tak terkecuali dengan makan. Hampir semua model makanan diperkenalkan kepadaku, baik dari segi enaknya, ekonomisnya, timingnya,<span> </span>keterdekatannya maupun kuantitasnya. Akhirnya aku menemukan makanan favorit, yaitu tongseng, sup, atau sate kambing. Hampir dua hari sekali menu itu ada dalam rangkaian belanja harian. Kesempatan ini aku gunakan untuk mengingat-ingat rasanya. Apalagi sup kambing, yang mak nyuss dagingnya. Maka, dalam benak ini berkeinginan untuk membuat masakan itu sepulang aku di Semarang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Lain ladang lain belalang. Begitulah sekiranya peribahasa yang mewakili keadaanku di Semarang. Di kota penuh bangunan sejarah ini, aku harus hidup seperti biasanya, tidak seperti ketika di Jakarta. Dengan bersepuluh orang, kami bersepakat untuk masak bersama dalam menghadapi masalah logistic.<span id="more-31"></span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Apa ikhwan-ikhwan masak? Pertanyaan itu sudah bagaikan angin lalu. Datang dan pergi, tak mengherankan. Tak ada yang special dari pertanyaan itu. Dan solusi yang disepakati sudah tentu berbuah jadwal piket masak setiap sepekannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Namun apakah masalah baru bagiku? Meskipun duniaku adalah desain, bila di dapur, jangan salah sangka. Pernah suatu hari, ketika belanja di pasar, ada pedagang yang menatap agak aneh. Masak ada ikhwan-ikhwan yang belanja di pasar? Kondisi seperti ini, sekalian aku panasi dengan membeli bumbu-bumbu yang dalam kategori masakan berat. Dan membutuhkan bumbu yang komplit (all item) seperti bawang merah, bawang putih, ketumbar, jinten, merica, kunyit, lengkuas, kemiri dkk. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">“Bu, ada kayu manis gak?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Secara spontan ibu di sebelahku bertanya, “Lho, mas-mase ini mau buat apa?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Dengan sambil memberi senyuman, aku menjawab, “Gule.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">“Bisa masaknya? Bumbunya sudah …” belum sempat ibu itu merampungkan pertanyaan, langsung aku potong dengan memesan beberapa bumbu kepada penjualnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">“Sekalian kapulaganya, terus daun jeruknya sedikit aja. Oya kasih dua bungkus cengkeh. Dan tadi kayu manisnya sepotong saja.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Mendengar daftar belanjaku, ibu itu tidak melanjutkan pertanyaannya. Aku pun pura-pura bertanya, “Oh… maaf bu. Tadi mau bertanya apa?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Ibu itu mengurungkan niatnya untuk bertanya dan dijawabnya sendiri pertanyaan tadi, “Lho mas dah tau itu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Dalam hati ini puas. Tadi sengaja aku potong pertanyaan, dengan memesan bumbu-bumbu khusus untuk gule. Sedangkan bumbu pawon dan balakurawanya aku pesan belakangan. Karena bumbu pawon lebih mudah didapatkan. Sedangkan bumbu-bumbu semacam kapulaga, cengkih, kayu manis belum tentu ada di warung-warung, terutama di daerah sekitarku yang jauh dengan pasar, yang ada cuma pasar pagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Kekosongan stok ini pernah sangat mengganggu imanijasiku dalam memasak. Pernah suatu ketika, teringat masakan tongseng di Jakarta. Walaupun memang tongseng dapat dijumpai di berbagai tempat, tapi entah kenapa tongseng di Jakarta itu terasa enak dan ingin membuatnya. Karena itulah aku berniat membikin tongseng. Waktunya pas pula. Pas jadwal piket hari Minggu, pas teman-teman ada acara keluar semua. Tinggal berdua dengan temanku. Jadi bila ada kesalahan teknis dalam meramu masakan, maka tidak banyak korban rasa, hanya kami berdua. Selainnya tidak merasakan, tinggal menunggu kabar. Sebaliknya, bila masakan enak, pasti membuat kecewa karena tidak ikut makan bersama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Dalam pikiranku pembuatannya hampir sama dengan gule atau opor. Bumbu sama lengkapnya. Plus santannya juga sama. Paling kekuatan modif rasanya terletak di kapulaga, serai, cengkih, merica. Meski kadang ketiadaan cengkih bukanlah segalanya. Terus tinggal kasih tomat dan kol. Oya, kecap jangan lupa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Nah, waktu daging dan bumbu pawon telah dibeli, berita absen melanda kapulaga dan cengkih. Bisa dibayangkan tanpa keduanya, apa kata dunia? Kalau dalam dunia desain grafis ketiadaan gambar atau warna masih bisa disiasati dengan gambar yang ada. Atau belanja di internet lebih <em>fast</em>. Tapi bagaimana dalam dunia masak, apakah bisa menciptakan rasa cengkih atau kapulaga dengan bumbu yang ada? Bisakah didownload?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Hal inilah yang waktu itu belum aku temukan solusinya. Namun kereta terlanjur berjalan. Bumbu dan daging terlanjur terbeli. Bagaimana kisah selanjutnya? Apakah masaj tetap berjalan terus? Ya masak tetap berjalan terus. Cuma santan berkaldu agak diperkental, dan kecap masuk duluan. Malaikat penolong rasa, daun salam, tampil agak berani. Selanjutnya tinggal memainkan rasa asinnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Dan setelah matang, apa yang terjadi? Kehancuran rasa tidak ditemui. Rasa pahit, asin atau asam tidak menyentuh lidah. Tetap enak. Tapi berganti haluan. Rasa tongseng memang tidak kudapat, namun berubah drastis. Seakan-akan rasanya seperti nasi gandul Pati. Ada sedap-sedapnya daun salam. Kecapnya matangnya terasa. Apalagi kentalnya santan. Kalau disruput panas-panas… mm .. mamamia lezatos. Pernah mencobanya kan? Nah semacam itulah rasa masak salah haluan. Tapi kalau nasi gandul itu pakai “kluwak” tidak? Itu yang dibuat untuk membuat “duduh ireng” (kuah berwarna hitam), bentuknya kulitnya seperti batu, keras. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Akhir masakan ini berjalan dengan sempurna. Kuah setengah dandang besar habis tanpa sisa. Begitu enak, begitu ketagihan membuat masakan berikutnya. Memang kadang masih ada benang merah antara logika desain grafis dengan logika memasak. Jatuh-jatuhnya masih enak dirasa. Bisa dibayangkan bila memasak dengan logika mencabut rumput? Tinggal ambil cabut &#8211; ambil cabut. Bumbu yang ada langsung masuk semua! </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/basithelqudsy.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/basithelqudsy.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/basithelqudsy.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/basithelqudsy.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/basithelqudsy.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/basithelqudsy.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/basithelqudsy.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/basithelqudsy.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/basithelqudsy.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/basithelqudsy.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/basithelqudsy.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/basithelqudsy.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/basithelqudsy.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/basithelqudsy.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=basithelqudsy.wordpress.com&amp;blog=5313869&amp;post=31&amp;subd=basithelqudsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basithelqudsy.wordpress.com/2008/10/31/logika-desain-versus-logika-masak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da59306cab202126fffe651a4a967ca8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">basithelqudsy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tamu di Pagi Hari</title>
		<link>http://basithelqudsy.wordpress.com/2008/10/31/tamu-di-pagi-hari/</link>
		<comments>http://basithelqudsy.wordpress.com/2008/10/31/tamu-di-pagi-hari/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Oct 2008 13:28:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>basith el qudsy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://basithelqudsy.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Tamu di Pagi Hari “Kang Basith-nya ada?” Suara itu tidak begitu keras. Namun sayup-sayup terdengar menembus sela-sela jendela kamarku. Hari masih pagi. Udara dingin masih membelenggu kulit ari. Matahari pun belum nyaman menghangatkan bumi. Teman-temanku masih dalam aktivitas pagi sehari-hari. Tapi siapa gerangan tamu pagi hari? Sepertinya masing asing di telinga ini. Apa aku yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=basithelqudsy.wordpress.com&amp;blog=5313869&amp;post=29&amp;subd=basithelqudsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-align:center;text-indent:0;" align="center"><strong><span style="font-size:21pt;font-family:&quot;" lang="EN-US">Tamu di Pagi Hari</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">“Kang Basith-nya ada?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Suara itu tidak begitu keras. Namun sayup-sayup terdengar menembus sela-sela jendela kamarku. Hari masih pagi. Udara dingin masih membelenggu kulit ari. Matahari pun belum nyaman menghangatkan bumi. Teman-temanku masih dalam aktivitas pagi sehari-hari. Tapi siapa gerangan tamu pagi hari? Sepertinya masing asing di telinga ini. Apa aku yang salah? Apa aku tidak mengenali orang yang ingin mencariku? Hati yang masih bertanya-tanya ini, tak mampu mengusik konsentrasi untuk melanjutkan kegiatanku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">“Tok… tok… tok… Mas Basith, ada teman yang mencari,” panggil teman sebelah kamarku sembari mengetuk pintu kamar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">“Sebentar. Tolong dipersilakan duduk dulu.” Pintaku sambil menata diri. Tentunya merapikan penampilanku yang sudah tentu dalam keadaan tak layak untuk dikonsumsi publik. Hanya layak dikonsumsi teman satu hunian saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Tidak begitu rapi, hanya sekadar cukup untuk sedap dipandang, aku melangkahkan kaki ke luar kamar menemui tamu itu. Belum sampai ke ruangan, aku mencuri-curi pandangan melalui sela-sela jendela ruangan untuk mengetahui yang disebutkan temanku tadi. Masih belum jelas. Masih belum dapat gambaran siapa dia. Kaki ini tetap melangkah menuju ruangan tempat tamuku berada. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Benar. Tatapan pertama aku begitu asing. Mereka berjumlah tiga orang. Aku masih mencoba mengaduk-aduk ingatanku sambil mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri. Siapa ya temanku itu? Bukannya aku tidak kenal, tapi teman yang belum lama aku kenal.</span><span id="more-29"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">“Ini aku, Kang. Waktu dulu diperkenalkan saat menjemput mas Mujib jadi pembicara,” sahut salah satu dari mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Saat itu juga aku ingat. Beliaulah yang menjemput teman Jakartaku, ketika dipinta untuk mengisi tausiah motivasi di tempat pondok yang mereka kelola. Maklum saja, saat pertemuan dengannya tidak lebih dari lima menit. Itupun aku dalam keadaan mempersiapkan kegiatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Selanjutnya aku bersama sahabatku berbicara dengan mereka bertiga. Ya, mereka bertiga adalah pengurus dari sebuah pondok. Pondok yang menampung kurang lebih 60-an santri, sederhana, bersahaja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">“Hanya studi banding mas.” Ucap mereka dengan nada merendah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Banyak obrolan-obrolan di pagi itu. Baik yang ringan maupun sesuatu yang ingin mereka kemukakan. Lama kelamaan, sempat terbesit bahwa dua dari ketiga tamuku ini, aku tidak begitu asing. Namun besitan itu aku pendam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Dari pembicaraan itu, akhirnya aku ingat dan mengenal dua dari mereka. Orang yang menjemput teman Jakartaku, adalah kakak angkatan waktu kuliah. Beliau adalah salah satu orator dalam kegiatan mahasiswa baru. Sewaktu aku ospek, beliaulah yang dengan lantang meneriakkan yel-yel, membakar semangat adik-adiknya, dan mendampingi dalam perlombaan orsenik antar fakultas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Berikutnya lagi, adalah seseorang kakak angkatanku yang sudah pernah aku kenal namanya. Tapi belum pernah atau pernah ketemu hanya sekilas saja dengan orangnya. Saat beliau berbicara, menceritakan kesibukan di luar kuliahnya, aku menangkap indikator-indikator itu yang pernah menjadi pertanyaan sewaktu kuliah dulu. Ya, langsung aku sebut namanya. Ternyata benar. Beliau adalah pengurus pondok sekaligus pengusaha Hp yang pernah aku kenal namanya. Dalam kesempatan itu, aku sempat menyebut beberapa nama koleganya yang aku kenal, dan beliau langsung mengerti serta bercerita sejarah asal-usul usahanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Dan yang satunya lagi, aku baru mengenalnya dipertemuan itu. Memang beliau bukan satu almamater denganku. Tapi kesejukan senyumannya itu, menunjukkan beliau seorang pengurus yang rendah hati. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Kami berlima meneruskan pembicaraan. Tepatnya aku dan sahabatku menyambut sesuatu yang ingin diungkapkan mereka bertiga. Ada hal menarik disini. Mereka adalah pengurus pondok yang bukan sembarang pondok. Pondok yang menampung santri-santri yang berbeda pada umumnya. Santri-santri mereka adalah siswa-siswa sekolah yang tidak bisa melanjutkan sekolahnya karena faktor ekonomi. Santri-santri pun tidak dipungut biaya sepersen pun. Dan kebutuhan sehari-hari ditanggung oleh Pak Kiai, pemilik pondok itu. Tugas santri hanya konsentrasi pada proses belajar akademik dan belajar dalam hidup. Selebihnya mengenai kebutuhan hidup saat ini sudah ada yang menanggung. Bahkan untuk mengejar ketertinggalan di dunia sekolah, para santri diberi kesempatan untuk mengikuti kejar paket yang dikelola oleh pondok itu. Subhanallah!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Pada akhir pertemuan, mereka, pengurus pondok yang bersilaturrahmi ke tempat kami, ingin berbagi kesempatan. Mereka memberi kami kesempatan untuk bersedekah semangat. Mereka memanggil orang-orang, hanya agar santri-santri mereka diberi motivasi, semangat, peluang yang akan menjadi bekal di kemudian hari. Begitulah kegelisahan yang mereka alami. Banyak santri yang tidak mempunyai gambaran, tidak memiliki cita-cita, bahkan tidak tahu tujuan hidup ini akan kemana dan diusahakan dengan apa. Bila dirasakan, terkadang sesuatu yang sudah tidak begitu berarti bagi kita sendiri, belum tentu tidak berarti bagi orang lain. Cerita kita, lika-liku kita, bahkan pelajaran dari kegagalan, sudah biasa kita gunakan untuk menghadapi hidup. Bagaimana dengan mereka? Apakah semua itu tidak berarti lagi bagi mereka juga?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0;text-indent:21.3pt;"><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">Wallahu ‘alam…</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/basithelqudsy.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/basithelqudsy.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/basithelqudsy.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/basithelqudsy.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/basithelqudsy.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/basithelqudsy.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/basithelqudsy.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/basithelqudsy.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/basithelqudsy.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/basithelqudsy.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/basithelqudsy.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/basithelqudsy.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/basithelqudsy.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/basithelqudsy.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=basithelqudsy.wordpress.com&amp;blog=5313869&amp;post=29&amp;subd=basithelqudsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basithelqudsy.wordpress.com/2008/10/31/tamu-di-pagi-hari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da59306cab202126fffe651a4a967ca8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">basithelqudsy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Oleh-oleh dari Sang Paman</title>
		<link>http://basithelqudsy.wordpress.com/2008/10/27/oleh-oleh-dari-sang-paman/</link>
		<comments>http://basithelqudsy.wordpress.com/2008/10/27/oleh-oleh-dari-sang-paman/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Oct 2008 17:24:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>basith el qudsy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://basithelqudsy.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Oleh-oleh dari Sang Paman S udah enam bulan lamanya, Hana dan Taqiya merindukan liburan ke rumah eyangnya. Ia ingin ketemu eyang dan pamannya. Maklum saja, Hana mulai mengenyam pendidikan di Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu setengah tahun yang lalu. Sehingga ia tidak banyak waktu untuk bermain ke luar kota. Sedangkan Taqiya umurnya tidak lebih dari satu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=basithelqudsy.wordpress.com&amp;blog=5313869&amp;post=17&amp;subd=basithelqudsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:20pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Oleh-oleh </span></strong><strong><span style="font-size:20pt;line-height:115%;font-family:&quot;" lang="EN-US">d</span></strong><strong><span style="font-size:20pt;line-height:115%;font-family:&quot;">ari Sang Paman</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<div>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td style="padding:0;" align="left" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:51.15pt;page-break-after:avoid;vertical-align:baseline;"><span style="font-size:58pt;font-family:&quot;">S</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-family:&quot;">udah enam bulan lamanya, Hana dan Taqiya merindukan liburan ke rumah eyangnya. Ia ingin ketemu eyang dan pamannya. Maklum saja, Hana mulai mengenyam pendidikan di Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu setengah tahun yang lalu. Sehingga ia tidak banyak waktu untuk bermain ke luar kota. Sedangkan Taqiya umurnya tidak lebih dari satu setengah tahun. Pemahamannya pun baru mulai berkembang. Ia tidak tahu kakaknya mau kemana. Asalkan pergi, ia harus ikut. Kalau tidak, gelegar tangisnya memekakan telinga. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">Dan inilah waktunya. Liburan sekolah baru berjalan dua hari. Perbekalan pun sudah disiapkan untuk jangka satu minggu. Sang ibu pun sudah berpamitan dengan tetangga sekitar. Rumah pun dititipkan supaya dijaga. Memang, tidak ada keamanan yang lebih kecuali tetangga yang baik hati.</span><strong><span style="font-size:20pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span id="more-17"></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">Bus pun sudah menanti. Kali ini mereka berangkat berempat. Sang ibu, Hana, Taqiya, dan Pakdhenya. Sang ayah kebetulan tidak bisa ikut, karena kuliah di luar kota. Meskipun merasa kurang, ketidakhadiran Sang ayah tidak menghalangi niat bertemu eyang dan Pamannya di kota santri. Dan bus pun mulai melaju.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">Perjalanan ke rumah eyang benar-benar melelahkan bagi Hana dan Taqiya. Apalagi dengan menggunakan jasa angkutan umum. Panas udara pantulan dari aspal membuat mereka gerah. Taqiya sering menangis karena tak kuasa menahan perbedaan lingkungan sekitar. Suara deru mesin kendaraan menambah bising keadaan. Dan diperparah dengan penumpang yang berdesakan, tidak mau tahu antara yang satu dengan lainnya. Sungguh luar biasa panasnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">Lagi-lagi Taqiya menangis. Ia seakan protes kepada Sang Ibu. Ia seolah ingin menuntut perlakuan ibunya di tempat itu. Sang Ibu hanya bisa diam dan menenangkan. Sedangkan Hana menggaruk-garuk kepala tanda kegerahan. Mulutnya pun tak kuasa menahan pertanyaan, “Bu, kapan sampainya? Kok lama banget? Hana tidak tahan. Hana ingin minum.” Dengan sigap Sang Pakdhe menyodorkan botol minuman yang diambil dari tas kulitnya. Lengkap dengan sedotan berwarna putih. Ia tertegun. Ia sebenarnya tidak tega melihat fasilitas yang disediakan kepada kedua keponakannya. Tetapi begitulah yang terjadi di negara ini. Seolah tidak ada hak bagi anak untuk menikmati fasilitas pelayanan umum yang layak. Pelayanan yang ada distandarkan untuk orang dewasa. Sedangkan untuk anak, paling hanya harganya saja yang berbeda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">Empat jam sudah mereka melewati perjalanan yang cukup melelahkan. Kepenatan dan kebisingan itu sirna seketika ketika memasuki rumah eyang. Rumah yang tidak begitu luas. Tetapi halamannya cukup untuk memuat dua mobil dan tiga pohon nangka melebarkan rantingnya. Pagarnya terbuat dari terali besi berdiameter lima millimeter. Seakan rumah itu tanpa pagar, karena tidak ada halangan untuk melihat setiap lekuk bangunan itu. Susunan genting yang menjulang ke atas dan berwarna coklat tua berlumut, pasir dinding yang sudah pada nampak, berwarna putih, kayu-kayunya berlubang dan rapuh, menandakan usia bangunan itu kurang dari umur manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">Sejak keberadaan Hana dan Taqiya, rumah eyang menjadi ramai. Tidak hanya canda ria, tapi juga tangis menggelegar dari Taqiya. Keluarga besar yang menghuni rumah pun merasakan suasana yang berbeda. Maklum saja, sudah lama tidak ada anak kecil di rumah itu. Paman paling muda sudah menginjak usia 15 tahun. Sedangkan Pak dhe tertua sudah memiliki rumah sendiri. Dan letaknya belasan kilometer dari rumah eyang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">Tak terasa, liburan Hana dan Taqiya sudah mendekati masa masuk sekolah. Mereka pun berencana pulang kembali ke rumahnya. Sebelum pulang, tepatnya satu hari sebelumnya, salah seorang Pamannya mengajak Hana berjalan-jalan. Sebenarnya mengajak Taqiya juga. Tetapi Sang Ibu melarang, karena masih terlalu kecil untuk berjalan-jalan naik motor. Akhirnya Sang Paman pun hanya mengajak Hana. Ia ingin membahagiakan keponakannya itu. Ia ingin memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk kedua keponakannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">Pada awalnya Sang Paman mengajak ke taman hiburan. Di sana terdapat patung-patung binatang. Barangkali Hana tertarik. Namun tidak. Hana tidak betah lama. Ia ingin segera beranjak pergi. Sang Paman pun menganggap itu tidak masalah. Karena memang niatannya tidak ke taman hiburan itu. Ada yang lebih dari sekedar taman hiburan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">Sembari menuju ke tempat tujuan, Sang Paman pun mulai tersenyum. Dalam rencana awal, tempat kedua inilah yang dimaksudkan. Tempat itu adalah toko buku. Ya, ia ingin mencari buku-buku pelajaran untuk anak seusia Hana. Dan lengkap dengan tuntunan materi agama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">Tak lama kemudian, sampailah ke toko yang dimaksud. Sang Paman pun memberi kesempatan Hana untuk mencari buku yang ia suka. Sembari Hana berkeliling mengitari buku yang berjajar, Sang Paman memilih buku yang dianggap bermanfaat bagi Hana. Ternyata di luar dugaan. Semua stok buku untuk siswa TK telah habis. Ada salah satu sekolah TK yang memborong buku-buku untuk kebutuhan perpustakaan. Tidak hanya itu, Hana mulai tidak nyaman di dalam toko buku itu. Ia ingin ke tempat lain. Tempat yang dimaksudkan Hana adalah toko mainan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">Sang Paman merasa kecewa. Maksud membelikan buku menjadi sia-sia. Keinginan memberikan sesuatu yang berarti bagi keponakannya kandas di tengah jalan. Meskipun dapat mencari alternatif ke toko buku lainnya, Hana malah berkeinginan mencari mainan. Namun Sang Paman tidak putus asa. Pasti ada jalan untuk menggabungkan dua keinginan yang berbeda ini. Keinginan yang satu adalah sarana pendidikan dan yang satunya adalah mainan. Akhirnya Sang Paman melayani permintaan keponakannya. Ia mengantar Hana ke salah satu toko mainan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">Toko mainan itu berukuran 10 x 15 meter persegi. Di dalamnya bertumpuk-tumpuk mainan. Ada berbagai macam bentuk dan corak. Mulai dari mainan gambar terbuat dari kertas, sampai mainan berteknologi canggih yang menggunakan bahan bakar bensin. Semuanya lengkap. Konsepnya seperti swalayan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">Dalam hati Sang Paman, inilah tempat yang berkesan bagi keponakannya itu. Tak ada anak yang tidak senang melihat ratusan macam mainan di depan mata. Ini berlaku bagi Hana. Dan benar. Hana begitu senang kesana-kemari, memilih dan memilah mainan. Bahkan karena senangnya, Hana sampai kebingungan mencari mainan apa yang cocok. Semua bagus. Semua mengasyikkan. Semua dihampirinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">Sudah setengah jam Hana mondar-mandir. Tapi tetap tidak menentukan mainan pilihannya. Sang Paman yang mengamati tingkah laku keponakannya itu tersenyum. Kebingungan Hana di toko mainan, seakan menjadi obat penawar kekecewaan di toko buku sebelumnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">Akhirnya Sang Paman mendekati Hana untuk memberi saran. Bahwa mainan itu harus bermanfaat dan berguna untuk selamanya. Hana pun memilih mainannya. Hana mengambil mainan alat memasak. Sang Paman menelan ludah. Ia kecewa untuk kedua kalinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">Ternyata mainan yang diambil keponakannya itu di luar prediksi. Namun Sang Paman tidak kekurangan akal untuk memilihkan mainan yang tepat. Ya, ia langsung saja mengambil mainan huruf bermagnet dan menyodorkannya sambil bertanya, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">“Mainan yang ini saja ya? Bentuknya kan bagus.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">“Tidak mau. Hana ingin kompor-komporan ini!” Jawab Hana memotong tawaran Sang Paman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">“Lho… kompor-komporan itu kan sudah punya. Masak Hana ingin membeli lagi?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">“Kepunyaan Hana sudah rusak. Dan ini lebih bagus. Lengkap lagi. Pokoknya Hana ingin ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">Kali ini Sang Paman dihadapkan sebuah tawar-menawar yang alot. Bukan kepada penjualnya, tetapi justru kepada keponakan sendiri. Keinginannya untuk memilihkan mainan yang berarti, terganjal. Merasa tawarannya ditolak, Sang Paman menggunakan jurus negosiasinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">“Okey, kalau itu mainan pilihanmu, Paman ingin membelikan mainan huruf ini untuk adikmu. Nanti di rumah, Paman meminta ibumu untuk merangkai huruf ini membentuk kata TAQIYA di pintu almari pakaiannya. Kan bagus. Warnanya mencolok lagi. Tapi Hana tidak boleh iri ya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">Jurus itulah yang digunakan Sang Paman terakhir kalinya. Ia sadar negosiasi ini tidak akan gagal. Karena pada dasarnya anak kecil suka mainan yang berwarna-warni, mencolok, dan indah. Apalagi kalau itu menyangkut Sang anak. Ya, untaian huruf nama anak itu. Kondisi itulah yang membuat seorang anak tidak bisa mengelak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">“Baiklah. Hana membeli mainan huruf itu. Tapi Hana juga membeli kompor-komporan ini ya?” jawabnya tak mau kalah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">“Lho kok dua, salah satu saja. Pilih mainan huruf atau kompor-komporan?” Tanya Sang Paman yang tak ingin pilihannya diduakan. Ia yakin kalau membeli keduanya, maka Hana lebih senang dengan kompor-komporan. Karena itu pilihannya. Sedangkan mainan huruf akan ditinggalkan begitu saja sesampai di rumah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">“Kedua-duanya Paman. Nanti mainan hurufnya bisa untuk goreng-gorengan.” Jawab Hana mengukuhkan pendiriannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">Mendengar jawaban Hana, Sang Paman tambah pusing. Maksudnya untuk membelikan mainan huruf itu untuk dapat belajar merangkai kata. Bukan untuk mainan yang lain. Ia pun mencari alasan untuk mematahkan pendirian Hana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">“Kalau Hana membeli dua mainan, dik Taqiya kan ingin dua mainan pula. Nah, semuanya jadi ada empat mainan. Sedangkan uang Paman tidak cukup untuk membeli semuanya. Nanti tidak jadi membeli lho! Bagaimana kalau Hana membeli mainan huruf ini satu dan dik Taqiya membeli mainan itu satu. Kalau begini, uang Paman cukup. Kita langsung bayar dan pulang. Bagaimana?” Tawaran Sang Paman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">Hana mulai berpikir. Ia tidak ingin pulang dengan tangan hampa. Juga tidak ingin pula tanpa oleh-oleh buat adiknya. Mainan huruf itu bentuknya kecil-kecil. Tetapi susah dikatakan tidak menarik. Berwarna-warni, bisa menempel di pintu kulkas, bisa pula merangkai namanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">“Baiklah Paman, Hana membeli mainan huruf ini saja. Terus untuk Taqiya mana?” Tanya Hana dengan penasaran. Karena Sang Paman tadi hanya menunjukkan sederet mainan. Belum memilihnya secara jelas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">“Ini. Sama dengan kepunyaan Hana. Ada abc-nya.” Kata Sang Paman sambil memilihkan mainan huruf yang berbentuk kubus, dapat dirangkai berbentuk balok, maupun bongkar satu persatu. Hanya saja tidak bisa ditempelkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:35.45pt;"><span style="font-family:&quot;">Akhirnya Hana dengan Sang Paman pulang dengan gembira. Hana gembira karena ia memperoleh mainan baru, sekaligus membawakan oleh-oleh yang unik buat adiknya. Sedangkan kegembiraan Sang Paman, tidak lain karena keberhasilannya membawakan oleh-oleh yang bermanfaat, setelah melalui perdebatan yang alot dengan keponakannya. Memang. Sejak dini, Sang Pamannya ingin mengajarkan arti membaca kepada anak kecil. Tidak terkecuali keponakannnya itu. Bila sejak dini sudah membiasakan bermain-main dengan huruf, merangkai menjadi kata, berimajinasi menjadi sebuah kalimat, maka di kemudian hari, Sang anak akan lebih mudah mengungkapkan idenya dalam bentuk tulisan. Dengan memadukan ilmu agama, hasilnya sang anak akan mengajarkan ajaran agama dalam bentuk tulisan. Atau lebih tepatnya berdakwah dengan pena.</span><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US">[]</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/basithelqudsy.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/basithelqudsy.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/basithelqudsy.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/basithelqudsy.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/basithelqudsy.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/basithelqudsy.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/basithelqudsy.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/basithelqudsy.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/basithelqudsy.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/basithelqudsy.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/basithelqudsy.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/basithelqudsy.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/basithelqudsy.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/basithelqudsy.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=basithelqudsy.wordpress.com&amp;blog=5313869&amp;post=17&amp;subd=basithelqudsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basithelqudsy.wordpress.com/2008/10/27/oleh-oleh-dari-sang-paman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da59306cab202126fffe651a4a967ca8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">basithelqudsy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mahadaya Cinta</title>
		<link>http://basithelqudsy.wordpress.com/2008/10/27/mahadaya-cinta/</link>
		<comments>http://basithelqudsy.wordpress.com/2008/10/27/mahadaya-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Oct 2008 14:03:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>basith el qudsy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://basithelqudsy.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Mahadaya Cinta S emenjak itu, aku berlalu meninggalkan kota tua ini. Kota di mana negara ini mengukir sejarah kelahirannya. Meski berlalu, untaian kenangan indah di keramaian pusat kota, masih setia melekat kuat di benak ini. Mm&#8230; Hakekat Cinta yang telah disampaikan di sana. Seolah sebongkah emas, hadir di depan mata dan diberikan kepadaku. Secepat itu. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=basithelqudsy.wordpress.com&amp;blog=5313869&amp;post=11&amp;subd=basithelqudsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:22pt;" lang="EN-US">Mahadaya Cinta</span></strong></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:22pt;" lang="EN-US"><br />
</span></strong></p>
<p style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:20pt;" lang="EN-US"> </span></strong></p>
<div>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td style="padding:0;" align="left" valign="top">
<p style="text-align:justify;line-height:41.35pt;page-break-after:avoid;vertical-align:baseline;margin:0 0 .0001pt;"><span style="font-size:53.5pt;">S</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p style="text-align:justify;">emenjak itu, aku berlalu meninggalkan kota tua ini. Kota di mana negara ini mengukir sejarah kelahirannya. Meski berlalu, untaian kenangan indah di keramaian pusat kota, masih setia melekat kuat di benak ini. Mm&#8230; Hakekat Cinta yang telah disampaikan di sana. Seolah sebongkah emas, hadir di depan mata dan diberikan kepadaku. Secepat itu. Begitu nyata. Indah. Sempurna! Entah kalimat apa yang harus aku ucapkan untuk memuji-Nya.<br />
Sesuatu kebenaran, ketulusan dan kepercayaan penuh tanpa keraguan. Ya. Cinta itu, menjadi medan magnet yang menarik para pecintanya untuk selalu memikirkan orang-orang yang ia cintai. Cinta menggerakkan para pecintanya untuk melakukan dengan kerelaan hati segala sesuatu yang menyenangkan orang-orang yang dicintai. Cinta juga yang menancapkan rasa suka atas segala hal yang disukai oleh yang ia cintai, mendorongnya untuk berlaku seperti yang dilakukan orang yang ia cintainya. Inilah kunci pokok, apakah seseorang akan meniti jalan menuju ridha atau azab-Nya? Dua pilihan yang tidak mudah kita melaluinya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/basithelqudsy.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/basithelqudsy.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/basithelqudsy.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/basithelqudsy.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/basithelqudsy.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/basithelqudsy.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/basithelqudsy.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/basithelqudsy.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/basithelqudsy.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/basithelqudsy.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/basithelqudsy.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/basithelqudsy.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/basithelqudsy.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/basithelqudsy.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=basithelqudsy.wordpress.com&amp;blog=5313869&amp;post=11&amp;subd=basithelqudsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basithelqudsy.wordpress.com/2008/10/27/mahadaya-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da59306cab202126fffe651a4a967ca8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">basithelqudsy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seandainya Kata Maaf itu Terucap . . .</title>
		<link>http://basithelqudsy.wordpress.com/2008/10/27/hello-world/</link>
		<comments>http://basithelqudsy.wordpress.com/2008/10/27/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Oct 2008 12:26:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>basith el qudsy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Seandainya Kata Maaf itu Terucap . . . P ertemuan ini adalah awal perkenalanku dengannya. Sebut saja Joe. Usianya lebih muda dari ku. Tubuhnya kecil, tidak tinggi ataupun pendek. Cukup standar bagi orang Indonesia. Perangainya sopan, terbuka, tidak menunjukkan ketidaksukaan bagi para pendatang. Awal yang indah. Pertemuan ketika akau sedang melaksakan tugas penelitian. “Tinggal dimana, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=basithelqudsy.wordpress.com&amp;blog=5313869&amp;post=1&amp;subd=basithelqudsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:19pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Seandainya Kata Maaf itu Terucap . . .</span></strong><strong><span style="font-size:19pt;line-height:115%;font-family:&quot;" lang="EN-US"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&quot;" lang="EN-US"> </span></strong></p>
<div>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td style="padding:0;" align="left" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;line-height:51.15pt;page-break-after:avoid;vertical-align:baseline;"><strong><span style="font-size:60.5pt;font-family:&quot;">P</span></strong></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;"><strong><span style="font-family:&quot;">ertemuan ini adalah awal perkenalanku dengannya. Sebut saja Joe. Usianya lebih muda dari ku. Tubuhnya kecil, tidak tinggi ataupun pendek. Cukup standar bagi orang Indonesia. Perangainya sopan, terbuka, tidak menunjukkan ketidaksukaan bagi para pendatang. Awal yang indah. Pertemuan ketika akau sedang melaksakan tugas penelitian.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:1cm;"><strong><span style="font-family:&quot;">“Tinggal dimana, Mas?”</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:1cm;"><strong><span style="font-family:&quot;">“Aku kos di pak Darmanto. Hanya sementara. Lha, rumahnya mas di dusun mana.”</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;text-align:justify;text-indent:1cm;"><strong><span style="font-family:&quot;">“Wah… tidak jauh kok. Kita tetangga dusun. Saya anaknya pak Wardjo. Kapan-kapan mampir Mas. Ya… seadanya.”</span></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/basithelqudsy.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/basithelqudsy.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/basithelqudsy.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/basithelqudsy.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/basithelqudsy.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/basithelqudsy.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/basithelqudsy.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/basithelqudsy.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/basithelqudsy.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/basithelqudsy.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/basithelqudsy.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/basithelqudsy.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/basithelqudsy.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/basithelqudsy.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=basithelqudsy.wordpress.com&amp;blog=5313869&amp;post=1&amp;subd=basithelqudsy&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://basithelqudsy.wordpress.com/2008/10/27/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/da59306cab202126fffe651a4a967ca8?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">basithelqudsy</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
