Logika Desain versus Logika Masak
|
T |
ahun 2007 lalu, adalah tahun dimana aku memiliki intensitas jam terbang cukup tinggi di Jakarta. Boleh dikatakan hampir setiap bulan aku pergi ke Jakarta. Di Jakarta pun aku tidak tanggung-tanggung. Antara 1-2 bulan di sana. Pulang lagi di Semarang selama satu bulan. Balik lagi ke Jakarta 1 bulan. Begitu seterusnya. Pada waktu itu memang Allah memberikan rezeki untuk mengerjakan belasan desain majalah dan buku. Meskipun rentan waktu cukup lama untuk ukuran sekali desain, perbaikan dan revisilah yang membuat aku harus menetap sementara di sana.
Di Jakarta aku tidak sendiri. Ada sahabatku yang memperkenankan aku untuk tinggal di tempatnya selama aku ada keperluan di Jakarta. Syukurlah. Tidak cuma itu, teman-temannya pun ‘welcome’ terhadapku. Maka tak butuh waktu lama aku mengenalnya. Cukup hitungan hari, hampir sebagian besar komunitasnya aku kenali.
Selama di Jakarta, temanku memberikan apresiasinya yang terbaik, perhatian yang terbaik, dan semua serba yang terbaik. Tak terkecuali dengan makan. Hampir semua model makanan diperkenalkan kepadaku, baik dari segi enaknya, ekonomisnya, timingnya, keterdekatannya maupun kuantitasnya. Akhirnya aku menemukan makanan favorit, yaitu tongseng, sup, atau sate kambing. Hampir dua hari sekali menu itu ada dalam rangkaian belanja harian. Kesempatan ini aku gunakan untuk mengingat-ingat rasanya. Apalagi sup kambing, yang mak nyuss dagingnya. Maka, dalam benak ini berkeinginan untuk membuat masakan itu sepulang aku di Semarang.
Lain ladang lain belalang. Begitulah sekiranya peribahasa yang mewakili keadaanku di Semarang. Di kota penuh bangunan sejarah ini, aku harus hidup seperti biasanya, tidak seperti ketika di Jakarta. Dengan bersepuluh orang, kami bersepakat untuk masak bersama dalam menghadapi masalah logistic.
Apa ikhwan-ikhwan masak? Pertanyaan itu sudah bagaikan angin lalu. Datang dan pergi, tak mengherankan. Tak ada yang special dari pertanyaan itu. Dan solusi yang disepakati sudah tentu berbuah jadwal piket masak setiap sepekannya.
Namun apakah masalah baru bagiku? Meskipun duniaku adalah desain, bila di dapur, jangan salah sangka. Pernah suatu hari, ketika belanja di pasar, ada pedagang yang menatap agak aneh. Masak ada ikhwan-ikhwan yang belanja di pasar? Kondisi seperti ini, sekalian aku panasi dengan membeli bumbu-bumbu yang dalam kategori masakan berat. Dan membutuhkan bumbu yang komplit (all item) seperti bawang merah, bawang putih, ketumbar, jinten, merica, kunyit, lengkuas, kemiri dkk.
“Bu, ada kayu manis gak?”
Secara spontan ibu di sebelahku bertanya, “Lho, mas-mase ini mau buat apa?”
Dengan sambil memberi senyuman, aku menjawab, “Gule.”
“Bisa masaknya? Bumbunya sudah …” belum sempat ibu itu merampungkan pertanyaan, langsung aku potong dengan memesan beberapa bumbu kepada penjualnya.
“Sekalian kapulaganya, terus daun jeruknya sedikit aja. Oya kasih dua bungkus cengkeh. Dan tadi kayu manisnya sepotong saja.”
Mendengar daftar belanjaku, ibu itu tidak melanjutkan pertanyaannya. Aku pun pura-pura bertanya, “Oh… maaf bu. Tadi mau bertanya apa?”
Ibu itu mengurungkan niatnya untuk bertanya dan dijawabnya sendiri pertanyaan tadi, “Lho mas dah tau itu.”
Dalam hati ini puas. Tadi sengaja aku potong pertanyaan, dengan memesan bumbu-bumbu khusus untuk gule. Sedangkan bumbu pawon dan balakurawanya aku pesan belakangan. Karena bumbu pawon lebih mudah didapatkan. Sedangkan bumbu-bumbu semacam kapulaga, cengkih, kayu manis belum tentu ada di warung-warung, terutama di daerah sekitarku yang jauh dengan pasar, yang ada cuma pasar pagi.
Kekosongan stok ini pernah sangat mengganggu imanijasiku dalam memasak. Pernah suatu ketika, teringat masakan tongseng di Jakarta. Walaupun memang tongseng dapat dijumpai di berbagai tempat, tapi entah kenapa tongseng di Jakarta itu terasa enak dan ingin membuatnya. Karena itulah aku berniat membikin tongseng. Waktunya pas pula. Pas jadwal piket hari Minggu, pas teman-teman ada acara keluar semua. Tinggal berdua dengan temanku. Jadi bila ada kesalahan teknis dalam meramu masakan, maka tidak banyak korban rasa, hanya kami berdua. Selainnya tidak merasakan, tinggal menunggu kabar. Sebaliknya, bila masakan enak, pasti membuat kecewa karena tidak ikut makan bersama.
Dalam pikiranku pembuatannya hampir sama dengan gule atau opor. Bumbu sama lengkapnya. Plus santannya juga sama. Paling kekuatan modif rasanya terletak di kapulaga, serai, cengkih, merica. Meski kadang ketiadaan cengkih bukanlah segalanya. Terus tinggal kasih tomat dan kol. Oya, kecap jangan lupa.
Nah, waktu daging dan bumbu pawon telah dibeli, berita absen melanda kapulaga dan cengkih. Bisa dibayangkan tanpa keduanya, apa kata dunia? Kalau dalam dunia desain grafis ketiadaan gambar atau warna masih bisa disiasati dengan gambar yang ada. Atau belanja di internet lebih fast. Tapi bagaimana dalam dunia masak, apakah bisa menciptakan rasa cengkih atau kapulaga dengan bumbu yang ada? Bisakah didownload?
Hal inilah yang waktu itu belum aku temukan solusinya. Namun kereta terlanjur berjalan. Bumbu dan daging terlanjur terbeli. Bagaimana kisah selanjutnya? Apakah masaj tetap berjalan terus? Ya masak tetap berjalan terus. Cuma santan berkaldu agak diperkental, dan kecap masuk duluan. Malaikat penolong rasa, daun salam, tampil agak berani. Selanjutnya tinggal memainkan rasa asinnya.
Dan setelah matang, apa yang terjadi? Kehancuran rasa tidak ditemui. Rasa pahit, asin atau asam tidak menyentuh lidah. Tetap enak. Tapi berganti haluan. Rasa tongseng memang tidak kudapat, namun berubah drastis. Seakan-akan rasanya seperti nasi gandul Pati. Ada sedap-sedapnya daun salam. Kecapnya matangnya terasa. Apalagi kentalnya santan. Kalau disruput panas-panas… mm .. mamamia lezatos. Pernah mencobanya kan? Nah semacam itulah rasa masak salah haluan. Tapi kalau nasi gandul itu pakai “kluwak” tidak? Itu yang dibuat untuk membuat “duduh ireng” (kuah berwarna hitam), bentuknya kulitnya seperti batu, keras.
Akhir masakan ini berjalan dengan sempurna. Kuah setengah dandang besar habis tanpa sisa. Begitu enak, begitu ketagihan membuat masakan berikutnya. Memang kadang masih ada benang merah antara logika desain grafis dengan logika memasak. Jatuh-jatuhnya masih enak dirasa. Bisa dibayangkan bila memasak dengan logika mencabut rumput? Tinggal ambil cabut – ambil cabut. Bumbu yang ada langsung masuk semua!

