Oleh-oleh dari Sang Paman
|
S |
udah enam bulan lamanya, Hana dan Taqiya merindukan liburan ke rumah eyangnya. Ia ingin ketemu eyang dan pamannya. Maklum saja, Hana mulai mengenyam pendidikan di Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu setengah tahun yang lalu. Sehingga ia tidak banyak waktu untuk bermain ke luar kota. Sedangkan Taqiya umurnya tidak lebih dari satu setengah tahun. Pemahamannya pun baru mulai berkembang. Ia tidak tahu kakaknya mau kemana. Asalkan pergi, ia harus ikut. Kalau tidak, gelegar tangisnya memekakan telinga.
Dan inilah waktunya. Liburan sekolah baru berjalan dua hari. Perbekalan pun sudah disiapkan untuk jangka satu minggu. Sang ibu pun sudah berpamitan dengan tetangga sekitar. Rumah pun dititipkan supaya dijaga. Memang, tidak ada keamanan yang lebih kecuali tetangga yang baik hati.
Bus pun sudah menanti. Kali ini mereka berangkat berempat. Sang ibu, Hana, Taqiya, dan Pakdhenya. Sang ayah kebetulan tidak bisa ikut, karena kuliah di luar kota. Meskipun merasa kurang, ketidakhadiran Sang ayah tidak menghalangi niat bertemu eyang dan Pamannya di kota santri. Dan bus pun mulai melaju.
Perjalanan ke rumah eyang benar-benar melelahkan bagi Hana dan Taqiya. Apalagi dengan menggunakan jasa angkutan umum. Panas udara pantulan dari aspal membuat mereka gerah. Taqiya sering menangis karena tak kuasa menahan perbedaan lingkungan sekitar. Suara deru mesin kendaraan menambah bising keadaan. Dan diperparah dengan penumpang yang berdesakan, tidak mau tahu antara yang satu dengan lainnya. Sungguh luar biasa panasnya.
Lagi-lagi Taqiya menangis. Ia seakan protes kepada Sang Ibu. Ia seolah ingin menuntut perlakuan ibunya di tempat itu. Sang Ibu hanya bisa diam dan menenangkan. Sedangkan Hana menggaruk-garuk kepala tanda kegerahan. Mulutnya pun tak kuasa menahan pertanyaan, “Bu, kapan sampainya? Kok lama banget? Hana tidak tahan. Hana ingin minum.” Dengan sigap Sang Pakdhe menyodorkan botol minuman yang diambil dari tas kulitnya. Lengkap dengan sedotan berwarna putih. Ia tertegun. Ia sebenarnya tidak tega melihat fasilitas yang disediakan kepada kedua keponakannya. Tetapi begitulah yang terjadi di negara ini. Seolah tidak ada hak bagi anak untuk menikmati fasilitas pelayanan umum yang layak. Pelayanan yang ada distandarkan untuk orang dewasa. Sedangkan untuk anak, paling hanya harganya saja yang berbeda.
Empat jam sudah mereka melewati perjalanan yang cukup melelahkan. Kepenatan dan kebisingan itu sirna seketika ketika memasuki rumah eyang. Rumah yang tidak begitu luas. Tetapi halamannya cukup untuk memuat dua mobil dan tiga pohon nangka melebarkan rantingnya. Pagarnya terbuat dari terali besi berdiameter lima millimeter. Seakan rumah itu tanpa pagar, karena tidak ada halangan untuk melihat setiap lekuk bangunan itu. Susunan genting yang menjulang ke atas dan berwarna coklat tua berlumut, pasir dinding yang sudah pada nampak, berwarna putih, kayu-kayunya berlubang dan rapuh, menandakan usia bangunan itu kurang dari umur manusia.
Sejak keberadaan Hana dan Taqiya, rumah eyang menjadi ramai. Tidak hanya canda ria, tapi juga tangis menggelegar dari Taqiya. Keluarga besar yang menghuni rumah pun merasakan suasana yang berbeda. Maklum saja, sudah lama tidak ada anak kecil di rumah itu. Paman paling muda sudah menginjak usia 15 tahun. Sedangkan Pak dhe tertua sudah memiliki rumah sendiri. Dan letaknya belasan kilometer dari rumah eyang.
Tak terasa, liburan Hana dan Taqiya sudah mendekati masa masuk sekolah. Mereka pun berencana pulang kembali ke rumahnya. Sebelum pulang, tepatnya satu hari sebelumnya, salah seorang Pamannya mengajak Hana berjalan-jalan. Sebenarnya mengajak Taqiya juga. Tetapi Sang Ibu melarang, karena masih terlalu kecil untuk berjalan-jalan naik motor. Akhirnya Sang Paman pun hanya mengajak Hana. Ia ingin membahagiakan keponakannya itu. Ia ingin memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk kedua keponakannya.
Pada awalnya Sang Paman mengajak ke taman hiburan. Di sana terdapat patung-patung binatang. Barangkali Hana tertarik. Namun tidak. Hana tidak betah lama. Ia ingin segera beranjak pergi. Sang Paman pun menganggap itu tidak masalah. Karena memang niatannya tidak ke taman hiburan itu. Ada yang lebih dari sekedar taman hiburan.
Sembari menuju ke tempat tujuan, Sang Paman pun mulai tersenyum. Dalam rencana awal, tempat kedua inilah yang dimaksudkan. Tempat itu adalah toko buku. Ya, ia ingin mencari buku-buku pelajaran untuk anak seusia Hana. Dan lengkap dengan tuntunan materi agama.
Tak lama kemudian, sampailah ke toko yang dimaksud. Sang Paman pun memberi kesempatan Hana untuk mencari buku yang ia suka. Sembari Hana berkeliling mengitari buku yang berjajar, Sang Paman memilih buku yang dianggap bermanfaat bagi Hana. Ternyata di luar dugaan. Semua stok buku untuk siswa TK telah habis. Ada salah satu sekolah TK yang memborong buku-buku untuk kebutuhan perpustakaan. Tidak hanya itu, Hana mulai tidak nyaman di dalam toko buku itu. Ia ingin ke tempat lain. Tempat yang dimaksudkan Hana adalah toko mainan.
Sang Paman merasa kecewa. Maksud membelikan buku menjadi sia-sia. Keinginan memberikan sesuatu yang berarti bagi keponakannya kandas di tengah jalan. Meskipun dapat mencari alternatif ke toko buku lainnya, Hana malah berkeinginan mencari mainan. Namun Sang Paman tidak putus asa. Pasti ada jalan untuk menggabungkan dua keinginan yang berbeda ini. Keinginan yang satu adalah sarana pendidikan dan yang satunya adalah mainan. Akhirnya Sang Paman melayani permintaan keponakannya. Ia mengantar Hana ke salah satu toko mainan.
Toko mainan itu berukuran 10 x 15 meter persegi. Di dalamnya bertumpuk-tumpuk mainan. Ada berbagai macam bentuk dan corak. Mulai dari mainan gambar terbuat dari kertas, sampai mainan berteknologi canggih yang menggunakan bahan bakar bensin. Semuanya lengkap. Konsepnya seperti swalayan.
Dalam hati Sang Paman, inilah tempat yang berkesan bagi keponakannya itu. Tak ada anak yang tidak senang melihat ratusan macam mainan di depan mata. Ini berlaku bagi Hana. Dan benar. Hana begitu senang kesana-kemari, memilih dan memilah mainan. Bahkan karena senangnya, Hana sampai kebingungan mencari mainan apa yang cocok. Semua bagus. Semua mengasyikkan. Semua dihampirinya.
Sudah setengah jam Hana mondar-mandir. Tapi tetap tidak menentukan mainan pilihannya. Sang Paman yang mengamati tingkah laku keponakannya itu tersenyum. Kebingungan Hana di toko mainan, seakan menjadi obat penawar kekecewaan di toko buku sebelumnya.
Akhirnya Sang Paman mendekati Hana untuk memberi saran. Bahwa mainan itu harus bermanfaat dan berguna untuk selamanya. Hana pun memilih mainannya. Hana mengambil mainan alat memasak. Sang Paman menelan ludah. Ia kecewa untuk kedua kalinya.
Ternyata mainan yang diambil keponakannya itu di luar prediksi. Namun Sang Paman tidak kekurangan akal untuk memilihkan mainan yang tepat. Ya, ia langsung saja mengambil mainan huruf bermagnet dan menyodorkannya sambil bertanya,
“Mainan yang ini saja ya? Bentuknya kan bagus.”
“Tidak mau. Hana ingin kompor-komporan ini!” Jawab Hana memotong tawaran Sang Paman.
“Lho… kompor-komporan itu kan sudah punya. Masak Hana ingin membeli lagi?”
“Kepunyaan Hana sudah rusak. Dan ini lebih bagus. Lengkap lagi. Pokoknya Hana ingin ini.”
Kali ini Sang Paman dihadapkan sebuah tawar-menawar yang alot. Bukan kepada penjualnya, tetapi justru kepada keponakan sendiri. Keinginannya untuk memilihkan mainan yang berarti, terganjal. Merasa tawarannya ditolak, Sang Paman menggunakan jurus negosiasinya.
“Okey, kalau itu mainan pilihanmu, Paman ingin membelikan mainan huruf ini untuk adikmu. Nanti di rumah, Paman meminta ibumu untuk merangkai huruf ini membentuk kata TAQIYA di pintu almari pakaiannya. Kan bagus. Warnanya mencolok lagi. Tapi Hana tidak boleh iri ya?”
Jurus itulah yang digunakan Sang Paman terakhir kalinya. Ia sadar negosiasi ini tidak akan gagal. Karena pada dasarnya anak kecil suka mainan yang berwarna-warni, mencolok, dan indah. Apalagi kalau itu menyangkut Sang anak. Ya, untaian huruf nama anak itu. Kondisi itulah yang membuat seorang anak tidak bisa mengelak.
“Baiklah. Hana membeli mainan huruf itu. Tapi Hana juga membeli kompor-komporan ini ya?” jawabnya tak mau kalah.
“Lho kok dua, salah satu saja. Pilih mainan huruf atau kompor-komporan?” Tanya Sang Paman yang tak ingin pilihannya diduakan. Ia yakin kalau membeli keduanya, maka Hana lebih senang dengan kompor-komporan. Karena itu pilihannya. Sedangkan mainan huruf akan ditinggalkan begitu saja sesampai di rumah.
“Kedua-duanya Paman. Nanti mainan hurufnya bisa untuk goreng-gorengan.” Jawab Hana mengukuhkan pendiriannya.
Mendengar jawaban Hana, Sang Paman tambah pusing. Maksudnya untuk membelikan mainan huruf itu untuk dapat belajar merangkai kata. Bukan untuk mainan yang lain. Ia pun mencari alasan untuk mematahkan pendirian Hana.
“Kalau Hana membeli dua mainan, dik Taqiya kan ingin dua mainan pula. Nah, semuanya jadi ada empat mainan. Sedangkan uang Paman tidak cukup untuk membeli semuanya. Nanti tidak jadi membeli lho! Bagaimana kalau Hana membeli mainan huruf ini satu dan dik Taqiya membeli mainan itu satu. Kalau begini, uang Paman cukup. Kita langsung bayar dan pulang. Bagaimana?” Tawaran Sang Paman.
Hana mulai berpikir. Ia tidak ingin pulang dengan tangan hampa. Juga tidak ingin pula tanpa oleh-oleh buat adiknya. Mainan huruf itu bentuknya kecil-kecil. Tetapi susah dikatakan tidak menarik. Berwarna-warni, bisa menempel di pintu kulkas, bisa pula merangkai namanya.
“Baiklah Paman, Hana membeli mainan huruf ini saja. Terus untuk Taqiya mana?” Tanya Hana dengan penasaran. Karena Sang Paman tadi hanya menunjukkan sederet mainan. Belum memilihnya secara jelas.
“Ini. Sama dengan kepunyaan Hana. Ada abc-nya.” Kata Sang Paman sambil memilihkan mainan huruf yang berbentuk kubus, dapat dirangkai berbentuk balok, maupun bongkar satu persatu. Hanya saja tidak bisa ditempelkan.
Akhirnya Hana dengan Sang Paman pulang dengan gembira. Hana gembira karena ia memperoleh mainan baru, sekaligus membawakan oleh-oleh yang unik buat adiknya. Sedangkan kegembiraan Sang Paman, tidak lain karena keberhasilannya membawakan oleh-oleh yang bermanfaat, setelah melalui perdebatan yang alot dengan keponakannya. Memang. Sejak dini, Sang Pamannya ingin mengajarkan arti membaca kepada anak kecil. Tidak terkecuali keponakannnya itu. Bila sejak dini sudah membiasakan bermain-main dengan huruf, merangkai menjadi kata, berimajinasi menjadi sebuah kalimat, maka di kemudian hari, Sang anak akan lebih mudah mengungkapkan idenya dalam bentuk tulisan. Dengan memadukan ilmu agama, hasilnya sang anak akan mengajarkan ajaran agama dalam bentuk tulisan. Atau lebih tepatnya berdakwah dengan pena.[]


Yah, anak-anak. Selalu bikin iri…
wah, ati-ati, sith!
nanti jadi kang abik kedua!
he..he!
Top Banget akhi! teruslah berkarya
Assalamu’alaikum… maaf, blh tau admin wp ini siapa? kok tak ada profile nya ya?
Cepet muleh mas! Jangan lupa oleh2 nya!
Kalau bisa belajar dari ana-anak, berarti kita belajar dewasa.