Feeds:
Tulisan
Komentar

The IPUNG 2 Returns

The IPUNG 2 Returns



“Atas nama cinta dan kehilangan!” pekik Gredo.

Kini kerumunan itu menunggu. Paulin telah mengerti kedatangan pasukan perusuh itu. Tika, si karib yang tak henti-hentinya menangis, telah membocorkan semua rencana itu kepadanya. Maka jika Paulin belum berani keluar kamar, bukan karena ia tak kuat menahan gelombang empati itu. Melainkan karena ia tahu rencana yang mengerikan, yang ia tahu, siapa sutradara di balik itu semua.

“Dendam Gredo, masih menyala,” kata Paulin ngeri. Kengerian yang jelas, karena rencana Gredo itu cerdik sekali, lembut sekali, mulia sekali. Untuk menarik niatnya mundur dari sekolah jelas tidak mungkin. Tetapi untuk menolak pesta, juga tidak mungkin.

Dan itulah jenis pesta yang berkali-kali telah digelar di Budi Luhur, dengan Ipung sebagai target korbannya. Itulah pembantaian terencana dengan Ipung yang akan dipanggang hidup-hidup dalam pengadilan massa. Selama ini, secara menakjubkan Ipung lolos dan malah menjadi tambahan bagi popularitasnya.

“Tapi tidak untuk kali ini,” kata Anak Mami lirih.

Kepergianku, hanya akan dimanfaatkan untuk membunuhnya!”

* * *

Ya. Itulah penggalan cerita yang tertera di sampul belakang Novel Ipung 2. Mendengar kata Gredo, terbayangkan bahwa sosoknya jahat, penuh tipu muslihat, tak mau dikalahkan. Seolah-olah musuh bebuyutan dengan kesulitan tingkat tinggi dalam mengatasinya. Berbeda jauh dengan penampilan luarnya. Begitu santun, lembut, pandai mencari empatik, ramah pada lawan bicaranya. Namun semua itu sebatas pencitraan diri. Dibaliknya adalah kedengkian luar biasa terhadap teman sekaligus rivalnya. Ia benar-benar licin. Bahkan hingga ke titik tanpa bentuk sama sekali. Karena dengan itu, ia menjadi dalang bagi nasib saingannya.

Gambaran semacam itulah yang dirasakan Paulin. Ia tahu betul rencana agresi balas dendam kepada sang kekasih, Ipung. Dendam yang harus dibayar mahal, tidak cukup dengan tangis seorang. Bahkan perlu kepedihan ribuan orang untuk menyempurnakan penderitanya. Butuh even tertentu dan biaya tidak sedikit pula. Bukan kematian ragawi yang ia inginkan, melainkan kematian mental dan penyesalan seumur hidup yang ia cari. Rupa-rupanya inilah kesempatan Gredo mengatasi masalahnya selama ini dengan tangan dingin. Dalang berdarah dingin! Semua itu tidak sulit. Karena ia mempunyai “tombol-tombol” yang siap bergerak atas komandonya.

Tangis, ketakutan, dan kegetiran itu masih merundung di hati Paulin. Namun ia tak sendiri. Tika sang sahabat, juga merasakan penderitannya. Seakan kejadian itu akan nyata di depan mata. Penderitaan begitu hebatnya yang akan dialami teman karibnya. Siksaan sebelum siksaan sesungguhnya! Tak khayal bila saking takutnya, air mata sering meleler sebelum waktunya. Kalau diizinkan, pingsan pun solusi tepat ketidakkuatannya. Akan tetapi bagaimana dengan Ipung sendiri, apakah sang korban merasakan kekhawatiran-kekhawatiran sebagaimana yang dirasakan kekasihnya dan teman-teman di sekolahnya? Haruskah Ipung memanggil bantuan dari “Douglas”, sang sahabat bertubuh kekar, berkulit hitam, jago berlaga di arena jalanan untuk melawannya?

Semua kekhawatiran, ketakutan, dan kecemasan itu akan ditata apik oleh sang empunya, penulis sekaligus pencetus kelahiran Ipung. Siapa lagi kalau bukan mas Prie GS, budayawan, motivator sekaligus ‘Kiai’. Keudikan, keunikan, keharuan, dan kekonyolan cerita beliau akan tertumpah dalam novelnya IPUNG 2. Tentunya sarat dengan lika-liku pelajaran hidup, penuh hikmah, penuh kearifan, penuh kebajikan. Segera peluncuran perdana Novel IPUNG 2 di Jakarta tanggal 12 November 2008. Selamat dan sukses buat mas Prie!

Logika Desain versus Logika Masak


T

ahun 2007 lalu, adalah tahun dimana aku memiliki intensitas jam terbang cukup tinggi di Jakarta. Boleh dikatakan hampir setiap bulan aku pergi ke Jakarta. Di Jakarta pun aku tidak tanggung-tanggung. Antara 1-2 bulan di sana. Pulang lagi di Semarang selama satu bulan. Balik lagi ke Jakarta 1 bulan. Begitu seterusnya. Pada waktu itu memang Allah memberikan rezeki untuk mengerjakan belasan desain majalah dan buku. Meskipun rentan waktu cukup lama untuk ukuran sekali desain, perbaikan dan revisilah yang membuat aku harus menetap sementara di sana.

Di Jakarta aku tidak sendiri. Ada sahabatku yang memperkenankan aku untuk tinggal di tempatnya selama aku ada keperluan di Jakarta. Syukurlah. Tidak cuma itu, teman-temannya pun ‘welcome’ terhadapku. Maka tak butuh waktu lama aku mengenalnya. Cukup hitungan hari, hampir sebagian besar komunitasnya aku kenali.

Selama di Jakarta, temanku memberikan apresiasinya yang terbaik, perhatian yang terbaik, dan semua serba yang terbaik. Tak terkecuali dengan makan. Hampir semua model makanan diperkenalkan kepadaku, baik dari segi enaknya, ekonomisnya, timingnya, keterdekatannya maupun kuantitasnya. Akhirnya aku menemukan makanan favorit, yaitu tongseng, sup, atau sate kambing. Hampir dua hari sekali menu itu ada dalam rangkaian belanja harian. Kesempatan ini aku gunakan untuk mengingat-ingat rasanya. Apalagi sup kambing, yang mak nyuss dagingnya. Maka, dalam benak ini berkeinginan untuk membuat masakan itu sepulang aku di Semarang.

Lain ladang lain belalang. Begitulah sekiranya peribahasa yang mewakili keadaanku di Semarang. Di kota penuh bangunan sejarah ini, aku harus hidup seperti biasanya, tidak seperti ketika di Jakarta. Dengan bersepuluh orang, kami bersepakat untuk masak bersama dalam menghadapi masalah logistic. Lanjut Baca »

Tamu di Pagi Hari

Tamu di Pagi Hari

“Kang Basith-nya ada?”

Suara itu tidak begitu keras. Namun sayup-sayup terdengar menembus sela-sela jendela kamarku. Hari masih pagi. Udara dingin masih membelenggu kulit ari. Matahari pun belum nyaman menghangatkan bumi. Teman-temanku masih dalam aktivitas pagi sehari-hari. Tapi siapa gerangan tamu pagi hari? Sepertinya masing asing di telinga ini. Apa aku yang salah? Apa aku tidak mengenali orang yang ingin mencariku? Hati yang masih bertanya-tanya ini, tak mampu mengusik konsentrasi untuk melanjutkan kegiatanku.

“Tok… tok… tok… Mas Basith, ada teman yang mencari,” panggil teman sebelah kamarku sembari mengetuk pintu kamar.

“Sebentar. Tolong dipersilakan duduk dulu.” Pintaku sambil menata diri. Tentunya merapikan penampilanku yang sudah tentu dalam keadaan tak layak untuk dikonsumsi publik. Hanya layak dikonsumsi teman satu hunian saja.

Tidak begitu rapi, hanya sekadar cukup untuk sedap dipandang, aku melangkahkan kaki ke luar kamar menemui tamu itu. Belum sampai ke ruangan, aku mencuri-curi pandangan melalui sela-sela jendela ruangan untuk mengetahui yang disebutkan temanku tadi. Masih belum jelas. Masih belum dapat gambaran siapa dia. Kaki ini tetap melangkah menuju ruangan tempat tamuku berada.

Benar. Tatapan pertama aku begitu asing. Mereka berjumlah tiga orang. Aku masih mencoba mengaduk-aduk ingatanku sambil mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri. Siapa ya temanku itu? Bukannya aku tidak kenal, tapi teman yang belum lama aku kenal. Lanjut Baca »

Oleh-oleh dari Sang Paman

S

udah enam bulan lamanya, Hana dan Taqiya merindukan liburan ke rumah eyangnya. Ia ingin ketemu eyang dan pamannya. Maklum saja, Hana mulai mengenyam pendidikan di Taman Kanak-Kanak Islam Terpadu setengah tahun yang lalu. Sehingga ia tidak banyak waktu untuk bermain ke luar kota. Sedangkan Taqiya umurnya tidak lebih dari satu setengah tahun. Pemahamannya pun baru mulai berkembang. Ia tidak tahu kakaknya mau kemana. Asalkan pergi, ia harus ikut. Kalau tidak, gelegar tangisnya memekakan telinga.

Dan inilah waktunya. Liburan sekolah baru berjalan dua hari. Perbekalan pun sudah disiapkan untuk jangka satu minggu. Sang ibu pun sudah berpamitan dengan tetangga sekitar. Rumah pun dititipkan supaya dijaga. Memang, tidak ada keamanan yang lebih kecuali tetangga yang baik hati. Lanjut Baca »

Mahadaya Cinta

Mahadaya Cinta


S

emenjak itu, aku berlalu meninggalkan kota tua ini. Kota di mana negara ini mengukir sejarah kelahirannya. Meski berlalu, untaian kenangan indah di keramaian pusat kota, masih setia melekat kuat di benak ini. Mm… Hakekat Cinta yang telah disampaikan di sana. Seolah sebongkah emas, hadir di depan mata dan diberikan kepadaku. Secepat itu. Begitu nyata. Indah. Sempurna! Entah kalimat apa yang harus aku ucapkan untuk memuji-Nya.
Sesuatu kebenaran, ketulusan dan kepercayaan penuh tanpa keraguan. Ya. Cinta itu, menjadi medan magnet yang menarik para pecintanya untuk selalu memikirkan orang-orang yang ia cintai. Cinta menggerakkan para pecintanya untuk melakukan dengan kerelaan hati segala sesuatu yang menyenangkan orang-orang yang dicintai. Cinta juga yang menancapkan rasa suka atas segala hal yang disukai oleh yang ia cintai, mendorongnya untuk berlaku seperti yang dilakukan orang yang ia cintainya. Inilah kunci pokok, apakah seseorang akan meniti jalan menuju ridha atau azab-Nya? Dua pilihan yang tidak mudah kita melaluinya.

Seandainya Kata Maaf itu Terucap . . .

P

ertemuan ini adalah awal perkenalanku dengannya. Sebut saja Joe. Usianya lebih muda dari ku. Tubuhnya kecil, tidak tinggi ataupun pendek. Cukup standar bagi orang Indonesia. Perangainya sopan, terbuka, tidak menunjukkan ketidaksukaan bagi para pendatang. Awal yang indah. Pertemuan ketika akau sedang melaksakan tugas penelitian.

“Tinggal dimana, Mas?”

“Aku kos di pak Darmanto. Hanya sementara. Lha, rumahnya mas di dusun mana.”

“Wah… tidak jauh kok. Kita tetangga dusun. Saya anaknya pak Wardjo. Kapan-kapan mampir Mas. Ya… seadanya.”